Tentang kekalahan

01.47 0 Comments

Selamat malam, El. Aku boleh bertanya sesuatu?

'Apa kekalahan terbesar dalam hidupmu?'

Tapi bagaimana jika kau mendengarkanku bercerita dulu. Tentang kekalahan terbesar dalam hidupku?

Boleh? Terima kasih.

Bagiku, hidup adalah satu perjalanan panjang bernama perjuangan yang tidak pernah habis. Setiap hari kita dihadapkan pada musuh-musuh baru yang harus kita hadapi.

Mau makan apa hari ini? Mau pergi kemana setelah pulang kerja? Mau nonton apa? Mau nebeng mobil siapa?

Iya, masing-masing kita adalah kekalahan atas keputusan-keputusan yang kita buat. Kita pada akhirnya tunduk pada apa yang disebut norma, kepantasan, kepatutan, sesuatu yang umum, sesuatu yang merupakan jawaban atau pilihan terbanyak.

Kita adalah sekumpulan kekalahan yang kita pupuk tiap hari.

Bagiku, hari itu, ketika aku menyerah kepada Hidup, itu adalah kekalahan terbesarku. Menerima pada apa yang diberikan norma, pada apa yang aku terima begitu saja, pada yang kau terima begitu saja sejak kita mengada, bukankah itu hal paling memalukan?

Aku sering bertanya. Dimana 'aku'? Dimana 'kamu'? Dimana 'kita'?

Ketika kita tak lebih dari manusia bentukan orang tua kita.

Aku pengecut, El. Aku menyerah.

Menurutmu, apakah aku masih harus memperjuangkan sesuatu bernama 'kita'?

Ah, El.. Andai perjuangan semudah mengangkat senjata. Berperang kemudian mati muda dan dielukan, dikenang sebagai pahlawan.

Kalaupun harus menjadi pengecut dan pecundang agar kita bisa mengada, maka aku akan memilihnya.

Ah aku baru sadar kalimat terakhirku.

Lagi-lagi aku kalah El. Dikalahkan dan menerima kekalahan begitu saja. Olehmu. Oleh kita.



-June




.

Langit, malam ini masih tentang rindu. Untukmu.

05.38 0 Comments

Langit, apa kabarmu malam ini?

Kamu masih suka menatap bulan seperti yang kamu lakukan dulu? rebah di tanah depan rumah, kemudian kau akan meracau tentang segala hal mengenai bulan. hanya sesekali saja kau berbincang tentang bintang. salahku. aku tak pernah menanyakan kenapa alasannya. mungkin kau punya kenangan khusus tentangnya. tentangku kah? ah, mana aku tahu. kau tidak pernah sedikitpun memberitahuku tentang apapun. bahkan tentang perasaanmu yang katanya menggebu itu.

Langit, kamu sedang apa malam ini?

sepertinya kau habis beperjalanan jauh ke Sukabumi. kota yang bahkan aku tak tahu di mana harus menunjuknya ketika dihadapakan padaku sebuah peta. kamu lelah, Langit? kamu sudah makan? punggungmu masih sakit? bagaimana deadline tulisanmu? sudah selesai?

ah Langit.

mungkin dalam hatimu kamu berfikir aku adalah orang yang luar biasa lain sekarang. yang hirau dengan keadaanmu. kamu salah Langit. aku masih mengikutimu, dan aku masih tidak ingin kehilangan satu selip cerita pun tentangmu. aku masih haus akan jejakmu. masih sama seperti dahulu. yang tidak akan bosan memelototimu ketika asap rokokmu mulai mengusikku. dan kau biasanya mati-matian mengusir asap rokokmu itu agar tak mengenaiku.

itu manis Langit. sangat. :)

dan masih sama seperti hari terdahulu. aku merindumu Langit. aku mencintaimu, Langit. dan sepertinya kamu tidak perlu tahu itu.

Langit, aku sayang kamu. masih seperti dahulu. dan akan selalu.

Aku rindu kamu, Langit!

02.18 0 Comments

Aku terbangun siang ini Langit. setelah banyak kepenatan yang menimpa kepala. sepertinya kamu pun demikian. dikejar tenggat yang tidak terkira. seperti berlari.

aku memimpikanmu tadi, Langit. entah bagaimana tapi kau begitu jelas hadir di sana. dalam sebuah perayaan dan kedua jarimu terluka. aku menangis Langit. aku takut sesuatu terjadi padamu. sesuatu yang mungkin tidak akan pernah kamu paham, bahwa kekhawatiranku bukan hal yang semu.

ah, mungkin aku hanya merindumu Langit. seperti selalu.

merindui caramu tertawa. merindumu yang begitu angkuh luar biasa. merindumu dengan segala banyak hal aneh itu.

ah Langit.

Aku rindu kamu!

Langit, dengar!

07.18 0 Comments

Langit,

Kamu sedang melihat langit malam ini?

Aku tidak.

Aku sedang mengurung diri di kamar. Menulis tentang ini semua. Tentang hati yang diremas-remas. Tentang kamu.

Aku paham, sangat paham. Tentang situasi di luaran. Tentang dia. Tentang hubungan kita.

Kamu mempermasalahkanku? Bukan salahmu. Bukan salahku juga kan?

Jika kamu pikir aku bahagia dengan itu semua, kamu salah.

Ada banyak alasan, Langit.. Banyak sekali alasan.. Dan mungkin karena itulah kamu pikr aku terlalu mencari alasan. Ah sudahlah.

Aku sedang membayangkanmu berada di sini sekarang Langit. Mengajakku keluar. Duduk di tanah lapang. Entah memperhatikan mendung atau bulan yang sedang tersenyum. Entah apapun itu. Aku ingin kita terdiam. Berbicara pada awan. Dan kemudian saling menautkan jawaban, dan tersenyum kemudian. Lalu kita akan saling mengaitkan tangan, bergandengan.

Tapi tidak mungkin, ya? :)

Mungkin ini memang sepenuhnya salahku, Langit.. Sepenuhnya salahku.. Tapi pernahkah kau berfikir bagaimana aku mati-matian membangun 'kita'? Pernahkah kau berfikir bagaimana aku begitu bersabar dengan banyak hal..? Pernahkah kau memikirkan banyak pengorbanan yang sudah aku lakukan..?

Pernahkah..?

Lalu, aku mohon. Jangan siksa aku dengan keluhanmu itu Langit. Kau tahu, aku pun merasanya.

Lalu, bagaimana jika kita bersepakat memendamnya saja. Menganggapnya tidak ada.

Menganggap bahwa kau adalah sesuatu yang terlalu jauh untuk aku jangkau.

Kau. Langit.


Tentang Orion part 2

18.33 0 Comments

Tenang. Jaket yang kemarin kau paketkan padaku sudah sampai. Dan aku pakai sekarang :)

Fay, kapan kau akan belajar merunutkan kalimat dengan jelas. Idemu bertebaran tidak keruan. Aku heran, bagaimana kau akhirnya bisa lolos menjadi freelancer di sana :P  Hehe..just kidd, hon :D

Aku sedang malas bercerita tentang bagaimana keadaanku di sini. Aku hanya sedang sangat tertarik tentang ceritamu mengenai Orion. Kau harus membaca lebih banyak dear.. Life's not merely a mith.

Tentang Orion

18.23 0 Comments

taken from here


Langit, kau tidak lupa kan mengenakan jaketmu? Berapa suhu di sana. Aku khawatir kau terkena radang lagi.

Aku tidak bepergian kemana-mana beberapa hari ini. Sebenarnya kemarin Rhein menawarkan liputan ke Kamboja. Entahlah. Rasanya aku hanya sedang malas saja. Padahal kamu tahu sendiri, kan, aku penasaran setengah mati dengan segitiga emas di sana.

Kau sedang mengernyitkan dahimu, kan? Haha, aku tahu itu, dear Langit. Aku tahu kau akan berfikiran bahwa tiba-tiba aku akan menghilang dari rombongan dan menjelajah sendiri untuk mencari tahu tempat perdagangan paling prestisius di Asia Tenggara. Membayangkan aku akan menjadi bagian dari mereka yang sedang bertransaksi, entah itu senjata atau ganja.

Tentu saja aku tidak akan melakukannya.. :) Aku masih ingin melihatmu datang. Dengan cambangmu yang pasti tidak sempat ka rapikan di sana. Dengan mata lelahmu dan derajat kemiringan bahumu yang bertambah, karena kau selalu memanggul kamera pada sisi yang sama. Ingatlah untuk menggantinya!

Aku sedang menatap bintang malam ini. Tapi tidak pada Langitku. Pada langit semua umat tentu saja.

Kau ingat cerita tentang Orion? Tentang Hera yang selalu iri sampai mengirimkan kalajengking untuk membunuhnya. Dan Zeus yang tidak bisa berbuat apa-apa hanya bisa memuseumkan Orion di langit.

Lalu, apa kau akan memuseumkanku?

Love,
Fayza